Raut bahagia tampak dari wajah Nasir, 50 tahun, warga Jalan
Gersamata, Kelurahan Anduonohu, Kecamatan Poasia, Kota Kendari. Setelah
bertahun-tahun menabung, bapak empat anak ini akhirnya bisa mewujudkan
cita-citanya berangkat haji bersama 1.334 anggota jemaah haji lain dari
Sulawesi Tenggara. Nasir sehari-harinya bekerja sebagai pedagang bakso
keliling.
Saat ditemui di rumahnya, Nasir bercerita, niat berhaji
sudah ada sejak ia masih muda. Kala niat itu tercetus, dia lantas berikhtiar.
Sedikit demi sedikit penghasilannya dari berdagang bakso gerobak keliling yang
dia geluti sejak 1994 ditabung. Sebenarnya uang yang disisihkan Nasir tak
besar, hanya 50 ribu per hari.
“Saya menabung sejak muda. Tahun 2009, saya menyetor ke bank
uang muka pendaftaran haji,” ucap Nasir dengan nada ceria mengisahkan kepada
Tempo, Selasa, 9 Agustus 2016.
Ditemani sang istri tercinta, Nasir meracik adonan baksonya.
Setiap dua hari sekali, sang istri akan berbelanja daging segar dan bumbu untuk
bakso di Pasar Mandonga. Jaraknya sekitar 30 kilometer dari tempat tinggal
mereka. Saban subuh, istrinya akan meracik daging menjadi bola-bola bakso. Pada
pukul 16.00 setelah menjalankan salat Ashar, Nasir menarik gerobak kayunya,
menjajakan bakso di sekitar Anduonohu.
“Tidak banyak, jadi dalam sehari pendapatan kotor yang saya
dapat Rp 300-400 ribu," tutur Nasir. Dia mengaku harus menyisihkan berapa
pun dari jumlah tersebut untuk kebutuhan makan dan pendidikan anak-anaknya.
Menurut Nasir, bebannya sedikit berkurang setelah dibantu
anak sulungnya, Usman, 21 tahun, yang berdagang bubur basang—bubur yang terbuat
dari bahan dasar jagung ketan. Dari pendapatan berdagang bakso dan penghasilan
anaknya berdagang bubur basang, Nasir membiayai pendidikan tiga anaknya. Dari
penghasilan berdagang bakso pula, pria kurus itu merenovasi rumah panggung yang
dihuni keluarganya menjadi rumah permanen.
“Semuanya dari hasil berdagang bakso. Saya ingat pesan orang
tua, kalau mau berkah penghasilan, sisihkan sedikit untuk di jalan Tuhan,” tutur
Nasir. (https://m.tempo.co/read/news/2016/08/10/137794659/kisah-tukang-bakso-naik-haji-berawal-menabung-rp-50-ribu)
Komentar
Posting Komentar